Jangan Sampai Anak Kita Benci Ahok!

paankbilang.blogspot, Hiruk pikuk dunia politik di ibukota Jakarta memang selalu mendapat porsi khusus bagi warga Indonesia. Apalagi soal Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Isu hangat yang akhir-akhir ini berkembang pesat adalah adanya seruan beberapa golongan untuk membenci satu sama lain, dalam hal ini gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Soal karakter beliau, saia tak perlu menggurui anda. Karena intensnya pemberitaan di media, kita patut khawatir generasi penerus kita (baca: anak-anak) tanpa sadar ikut-ikutan membiarkan benih kebencian tumbuh dalam diri mereka.

Pesan saya, jangan benci Ahok 'hanya' karena beliau keturunan China. Sejarah berbicara, China dan Indonesia adalah dua negara yang tidak bisa dipisahkan. Khususnya dipulau Jawa, sejak dulu saat garam belum juga asin, Indonesia-China sangat erat hubungannya. Tak usah terlalu tinggi bicara bulutangkis. Kita mulai saja dari yang paling sering kita jumpai sehari-hari: bahasa. Sadar atau tidak, banyak bahasa china yang bercampur manis dengan budaya Jawa. Berikut antara lain:

1. Remang Remang = Lie Mang Watt
2. Kesenian Tradisional = Wha Yang Wong
3. Tidak Bisa Bayar = Huu Tang Siek
4. Nanti Dulu = Meng Kou Siek
4. Berapa Harganya = Pin Ten Nan
5. Gampang Terpengaruh = Ka Tu Tan
6. Masuk Angin = Ngen Tu Tan
7. Sering Pipis = Ngu Yu Han
8. Yang Terbaik = Ing Kang Sai
9. Masih Sadar = Siek ei Ling
10. Pikun = La Li Yan
11. Perhiasan Palsu = Ka Lung Seng
12. Setrika = Go Sok An
13. Potongan Logam = Cwi Lan Seng
14. Suara Ribut = Ta Boh Seng
15. Perut Buncit = Mbe To Tong
16. Orang Kurus = Wong Kei Ceng
17. Mencari Kutu = Phe Tan Nan
18. Lantai Licin = Lu Mu Ten
19. Pakaian Basah = Pei Pei Yhan
20. Jajan Pasar = Ke Lan Ting
21. Di Belakang = Ing Wing King
22. Lari Terburu Buru = Me Len Cing
23. Tuan Rumah Pelit = Lung Gwan Sui, Tan Po Su Gwan
24. Tidak Bohong = Tee Nan Kok
25. Kebelet Pipis = Kei Puu Yuh
26. Gadis Cantik = Wee Dhok Hwa Yuu
27. Sedikit Saja = Shii Thik Wae.
28. Orang Gila = Wong Shiin Thiing
29. Lainnya Saja = Lhian Nee Wae
30. silakan tambahkan...

Sumber gambar: Wikipedia

» Read More...

Logo Harkitnas ke-108 Tahun 2016 Vector CDR

paankbilang.blogspot, Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei akan datang sebentar lagi. Sebagai kuli di salah satu lembaga pemerintah di kabupaten antah berantah (baca: Kebumen), saia diminta atasan untuk membuat materi publikasi terkait Harkitnas ini.

Sayangnya, hingga tulisan ini dibuwat, belum ada logo resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Kominfo. Mungkin sedang banyak kegiatan. Akhirnya, dengan segala daya upaya yang seadanya saia menggambar sendiri logo Peringatan Hari kebangkitan Nasional ke-108 Tahun 2016 seperti ini:


Saia membuat ini menggunakan software CorelDraw X4 (bukan ori :sad: ). File *.CDR saia sertakan juga dibawah tulisan ini. Link itu menuju ke sebuah file ber-ekstensi *.zip yang berisi file CorelDraw X4 (*.cdr), Font/huruf yang saia gunakan, dan file jadi (*.JPG) dengan resolusi 4393 x 4393 pixel.

File CDR:
klik disini (ziddu)

Terimakasih. Semoga membantu.

» Read More...

Aktifkan mode USB Media perangkat (MTP) Android 4.4 (KitKat) dan 5.0 (Lollipop)

paankbilang.blogspot, Hari ini Selasa (26/01/2016) saia diminta meng-upload sebuah video ke Google Drive oleh seorang teman. Karena posisi di lapangan dan saia tidak membawa flashdrive akhirnya saia menggunakan ponsel Motorola Moto E saia sebagai penyimpan data mass storage. Cus. USB dicolok, muncul notifikasi tersambung ke USB. File ditransfer.

Karena kawan saia gak ini force close tanpa safely remove akhirnya kotak pilihan (check box) "Media perangkat (MTP)" saia unselect. Sesampai di kantor, ponsel saia colok ke komputer. Celakanya, tak ada reaksi apapun baik di komputer maupun di ponsel akibat perbuatan saia tadi. Bagian yang tersulit adalah untuk mengubah kembali pengaturan tadi. Sistem seolah tidak menyediakan opsi "USB sambungan komputer" pada Android ini. Walhasil, pilihan untuk mengeset "perangkat Media (MTP)" atau "Camera (PTP)" tidak ada. Notifikasi mode MTP hilang sama sekali dan tidak ada jalan pintas untuk kembali ke pengaturan itu. Bahkan di mode pengembang sekalipun. Saia Googling pun bingung mau pakai kata kunci apa.

Kabar gembira. Akhirnya ketemu juga pengaturan itu. Ternyata itu nyempil di bagian menu "Penyimpanan" (Storage - english). Fyuhhh... senangnya hatiku turun panas demamku. Kini aku bermain dengan riang...

Jika anda mengalami hal serupa, berikut saia tunjukkan menu tersembunyi itu:


Tampilan seperti ini yang saia harapkan. Tapi jalan menuju kesini... amat terjal berliku.
Pertama, masuk ke Pengaturan (Settings) - Penyimpanan (Storage).
Kemudian perhatikan tanda titik tiga di pojok kanan atas. Itu menu. Pengembang Android menyembunyikannya disitu. Primpen banget yakin. Klik/Pencet/Sentuh/belai touch di bagian itu. dan... jeng jeeng....
Lhaaa.... tampilan tanpa check box ini yang bikin Motorola Moto E milik saia yang menggunakan OS Android KitKat tidak bereaksi saat diculek dicolok ke mata komputer.
Centang. daan... everything is undercontrol, captain.
Selamatlah saia... hahahahaha

» Read More...

Dikantorku, Karyawan WAJIB Pakai Gadget

Saia bekerja disebuah kantor pemerintah. Sebagai freelance. Tempat kerja ane tugasnya adalah memfaSILITasi wakil rakyat. Kota kecil di pesisir selatan Jawa Tengah ini, sejak 6 Agustus 2015 lalu dipimpin oleh Penjabat (PJ) Bupati karena Bupati terpilih sudah habis masa jabatan dan bupati baru belum terpilih.

To the point. Hari pertama menjabat bupati, (sebut saja) pak PJ menginginkan adanya pelayanan prima berbasis teknologi. Dianjurkan pakek twitter. Anjuran ini direspon pimpinan saia dengan (agak) mewajibkan seluruh karyawan, terutama yang PNS, menggunakan smartphone berbasis android. Bahkan beliau memfaSILITasi kredit tanpa bunga bagi yang masih menggunakan hape jadul. Ajieb...

Alhasil, seminggu ini para karyawan yang baru saja bermigrasi ke android sibuk belajar menggunakan perangkat baru. Saia yang pernah sekolah di jurusan yang berbau teknologi lebih sibuk lagi. Ecieeeh... You know what lah ekekekeke

So, whats the problem? Nothing. So far. Hanya kekhawatiran pribadi. Saia agak khawatir hadirnya android di setiap tangan karyawan bukannya meningkatkan (kualitas) kinerja. Apalagi yang dianjurkan pak pimpinan adalah menginstall aplikasi-aplikasi media sosial. Twitter, Facebook, BBM, Line, Whatsapp, Yahoo Messenger. Set dah.

Perubahan situasi pada minggu pertama sejak anjuran penggunaan gadget ini mulai terlihat. Selepas apel pagi, karyawan biasa berkumpul dan bercengkrama di Kitchen and Lounge. Kalo dulu ramai gelak tawa karena semua berbagi cerita, kini topiknya mulai lain. Lain= beda. Bukan "lain" yang media sosial ber ikon hijau itu :D. Topik yang dibahas kali ini lebih ke penggunaan media-media sosial. Celakanya, seperti kodrat awal lahirnya medsos, yang dicari pertama adalag akun-akun kawan lama, bukan instansi yang berhubungan dengan tugas pokok kerja. Saia mulai khawatir dengan dikuasainya penggunaan media sosial ini karyawan malah terjebak pada nostalgia masa lalu. Mendekatkan kawan lama yang jauh. Semoga tidak menjauhkan kami yang dekat secara fisik. Semoga kawan dan atasan saia tidak berubah menjadi komunitas menunduk yang bila ketemu bukan berbincang tapi sibuk dengan perangkat. Semoga ini hanya euforia, dan kelak bisa berjalan lancar seperti yang diinginkan pak PJ. Semoga saia dan rekan serta atasan tetap memprioritaskan menatap mata lawan bicara ketimbang memandang nama pada layar.

Semoga dan semoga. Doakan saia sukses kawan. Ya ang, semoga kamu sukses, lancar rejeki dan dilapangkan segala urusan. Aamiin.

» Read More...

Apel Pagi Sebagai Skala Kinerja

Pagi ini (6/8) saia ikut apel pagi di kantor. Ecieee kantooor. Seperti halnya di kantor lain, apel pagi di kantor saia pun 'hanya' sekedar berbaris bersama, berhitung, berdoa bersama, lalu mendengarkan amanat pembina apel.

Tak ada yang istimewa dari amanat pembina apel. Bagi saia yang istimewa justru hadirnya saia di apel. Kenapah? Karena apel yang rutin dimulai pukul 07:00 WIB ini sangat jarang bisa saia ikuti. Pagi banget coy! Ekekeke

Bagi saia yang seorang freelance, berangkat dinas jam 06:30 WIB adalah hal yang langka. Lalu kenapa sekarang bisa? Karena ada kabar kabur yang mengatakan bahwa pimpinan kami menggunakan presensi apel sebagai tolak ukur kinerja. Bahkan konon akan ada potongan uang harian bagi freelance yang tidak ikut apel. Mendengar kabar ini, reaksi pertama saia adalah; hey what the fvck?? Tapi aturan tetaplah aturan. Kami, saia dan 3 orang freelance yang lain, hanya menuruti dan meniteni.

Jika ada diantara kalian yang tidak tahu apa itu meniteni PM saia yua...

» Read More...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Ideas Community